Naskah kuno Indonesia di perpustakaan RI

Posted by the past | Posted in , | Posted on

0

Naskah Kuno Nusantara Perpustakaan Nasional RI berasal dari Museum Nasional sejak tahun 1962 yang dihibahkan oleh para ahli berkebangsaan Belanda kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia atau pada masa zaman Belanda dikenal dengan nama Bataviaasch Genootshap van Kunsten en Wetenshappen. Para pakar dari Belanda yang ikut serta dalam perkumpulan naskah tersebut antara lain Dr. Brandes, Cohen Stuart dan Ir. Moens yang pernah bertugas di Yogyakarta.

Sampai saat ini koleksi naskah Perpustakaan Nasional RI terus bertambah walau tidak banyak, hal ini karena naskah kuno sudah semakin langka keberadaannya. Ada kecenderungan bahwa para pemilik lebih senang menjual ke luar negeri daripada menghibahkan ke Perpustakaan Nasional RI dengan “Mas Kawin”, yang tentunya bernilai lain bila menggunakan ukuran US $ (Dolar Amerika), £ (Poundsterlling) dan Ringgit. Hal ini dapat terjadi atau mungkin terjadi karena para pemilik/penjual tidak mengetahui bahwa naskah kuno yang dimiliki, mempunyai arti penting bagi studi kebudayaan di negara kita, dan dapat mengungkap masa lampau apakah ada benang merah dengan masa sekarang.

Beberapa contoh naskah yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI antara lain :

1. Naskah Negara Kertagama.
Naskah ini yang dihibahkan oleh Dr. Brandes adalah salah satu naskah monumental karya Mpu Prapanca, yaitu naskah Negara Kertagama yang masih cukup bagus, dapat terselamatkan dan sekarang menjadi koleksi yang bermakna tinggi di bumi Nusantara.

2. Naskah Merapi Merbabu.
Dari beberapa naskah kuno koleksi Perpustakaan Nasional RI ini telah banyak dimanfaatkan oleh para peneliti baik dalam negeri maupun mancanegara. Sebagai salah satu contoh adalah terungkapnya naskah Merapi-Merbabu oleh ilmuwan dari Yogyakarta yaitu Dr. I Kuntara Wirjamartana Sj dan kawan-kawan. Walau belum seluruh naskah Merapi Merbabu dibuat, tetapi katalog telah terwujud sehingga misteri-misteri yang ada didalam naskah tersebut lambat laun akan terungkap. Naskah ini mempunyai ciri huruf yang lain dari huruf Jawa sekarang yang sangat unik, dan perlu diketahui bahwa ahli naskah Merapi Merbabu sampai saat ini hanya 3 orang, yaitu dua dari Yogyakarta dan satu dari Leiden (Belanda).

3. Naskah Surek Baweng
Bahan naskah dari lontar dengan lebar 1,5 cm, berbentuk rol (dua gulungan menyerupai kaset), beraksara bugis, berbahasa bugis, berbentuk prosa. Kondisi cukup baik, lontar disambung-sambung, kemudian dijahit dengan sejenis benang, bertangkai kayu, panjang tangkai 46,6 cm. Di dalam naskah ini terdiri dari tiga uraian pokok yaitu :
a. Nasehat bagi kaum laki-laki yang muda, jika mencari calon istri yang baik jangan tergesa-gesa datang meminang perempuan tersebut.
b. Hari perkawinan yang baik adalah berkaitan dengan hari kelahiran seorang perempuan yang akan dipinang, beberapa tabiat yang dimiliki oleh perempuan, dan tata cara kehidupan berumah tangga.

Sumber : http://www.wacananusantara.org

Comments (0)

Posting Komentar